Review: Dia Lo Gue, Lounge-nya Anak Muda Jakarta



14903723187_2547ee192f_o.jpg
Photo by https://farm4.staticflickr.com/3853/1490

Disebuah sudut Ibu Kota, dimana ratusan tempat makan berparas ‘mirip’, ada salah satu tempat yang bisa disebut kafe, bisa disebut gallery, tapi apapun sebutannya itu bukan menjadi persoalan, yang terpenting tempat ini bisa menjadi lounge bersahabat untuk anak-anak Jakarta. Namanya Dia Lo Gue, unik tapi tetap cool dan menarik. Jika digabung akan menjadi ‘Dilaogue’ dan jika dipisah akan menjadi ‘Dia-Lo-Gue’ atau ‘Dia-Kamu-Aku’. Asal mengapa tempat ini diberi nama Dia-Lo-Gue (Dialog) adalah agar terjadi dialog kreatif antara Dia(Seniman)-Lo(Designer)-Gue(Publik). Sehingga tempat ini lebih cenderung menekankan pada efek seninya dari pada kafenya. Lokasinya cukup mudah ditemukan, kalo kamu mau main kesini tempatnya ada di Jalan Kemang Selatan nomor 99 A, patokanya ada di depan gedung Habibie Center. Mulai dari kalangan anak sekolah, kuliah, hingga kelompok pemuda yang sudah bekerja kerap hobi duduk santai sambil melihat-lihat suasana modern di tempat ini. Secara keseluruhan, kami sudah menyimpulkan apa yang membuat tempat ini begitu menarik perhatian anak muda.

 

Memancing Pengunjung Untuk Berfoto

Dia Lo Gue menjuluki dirinya dengan sebutan ‘art space’. Namun art space ini bukan sembarang art space. Nuansa seni modern dan minimalis yang ditunjukan dalam design bangunan ini membuat tangan pengunjung gatal untuk membuka hape dan berfoto ria. Design dan gallery antik yang dipajang sepanjang lingkungan Dia Lo Gue menjadi selling point tempat ini. Ada tempat indoor dan outdoor, keduanya sama-sama cozy dan memberikan nuansa ‘serasa di rumah sendiri’. Seni yang ditawarkan disini juga bukan seni asal-asalan, ada fine art and paper installations, foto, video, dan banyak lagi. Entah mengapa, ada hal ganjil yang sulit dijelaskan dari Dia Lo Gue. Kesan dalam tempat ini selalu mengarah pada model zaman sekarang. Mungkin karena konsepnya yang terlalu simple minimalis. Sehingga ada ratusan foto di Instagram yang menggunakan tempat ini sebagai wahana bergaya-gaya di depan kamera.

Mungkin sudah ratusan orang foto di tangga mainstream ini.

http://2.bp.blogspot.com/-I6m2p_jzMwI/VKAFHuxLEJI/AAAAAAAAACE/SNoLlLAL7xM/s1600/e.JPG

 

Sehingga ada ratusan foto di Instagram yang menggunakan tempat ini sebagai wahana bergaya-gaya di depan kamera.

http://1.bp.blogspot.com/-kiGwUdQ_Pag/VPg9g-fah_I/AAAAAAAAANY/6DBhjp-o_N4/s1600/DSC_0379.JPG

 

Seni menjadi Selling Point.

http://cdn.ootdindo.com/wp-content/uploads/2015/11/26212549/post238.jpg

 

Kafe Untuk Makan Cantik

Makan cantik itu bukan berarti yang makan harus seseorang yang cantik. Lagi pula, cantik itu relatif kan? Makan cantik yang dimaksudkan adalah makan dengan manner yang baik, menu yang klasik, dan tempat yang asik. Walaupun table untuk nongkrong berlama-lama di Dia Lo Gue cukup terbatas, atau sangat terbatas lebih tepatnya. Tetapi keterbatasan ini tetap membuat orang tertarik untuk merasakan makan disini. Jangan shock kalo kamu melihat antrian waiting list yang sangat panjang. Bukan karena rasa yang terkenal atau membekas di lidah orang, tapi lebih kepada rasa penasarannya. Bagaiamana tidak penasaran, hingga buku bill saja diberi design super minimalis dan klasik. Untuk tempat sejenis Dia Lo Gue ini, memang selling point-nya adalah spot bagus bukan makanan yang lezat. Jadi kamu jangan berekspektasi besar pada rasa makanan disini. jenis makanannya pun bukan yang aneh atau anti mainstream, seperti layaknya kafe lain, ada juice, chocolate, burger, pasta, pizza, dan santapan umum lainnya.

Salah satu dessert ‘biasa’, chocolate lava dan ice cream.

http://media.suara.com/images/2015/09/18/o_19vfkmdtg9gu155f1uhgiohsfda.jpg

 

Art Gallery Lucu

Tahun 2016 sudah saatnya anak muda melihat art yang lebih modern dan maju. Bukan karena kita lupa dengan seni zaman dahulu, tapi yang namanya sesuatu hal harus terus dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Art gallery dalam Dia Lo Gue bukan seperti seni-seni yang ada di musem konvensional. Banyak lukisan-lukisan simpel dan biasa yang dikemas menjadi seni elegan. Membuat pengunjung tidak cukup satu kali melihat, membuat pengunjung betah dan rela wasting time. Dia Lo Gue sepertinya memang dengan sengaja ingin memberikan pendekatan antara publik dan pelaku seni dengan jarak yang lebih dekat dan dengan cara yang lebih nyaman. Karena kebanyakan tempat Art Gallery memberikan jeda atau jarak jauh antara publik dan seni itu sendiri dalam bentuk penyampaian seni yang kaku. Kenyamanan yang dituangkan dalam bentunk arsitektur bangunan membuat si pengunjung merasa lebih 'intim' dengan seni.

Art gallery dalam Dia Lo Gue bukan seperti seni-seni yang ada di musem konvensional.

https://behindchainlessbrain.files.wordpress.com/2013/11/img_8116.jpg

 

Kenyamanan yang dituangkan dalam bentunk arsitektur bangunan membuat si pengunjung merasa lebih 'intim' dengan seni

http://mozaic.co.id/assets/uploads/2015/07/dialogue1.jpg

Leave a Comment

  0 Comment