Tentang Mengungkapkan Pendapat dan Hal-Hal yang Bisa Kamu Lihat Dibaliknya



11_07_001949.jpg
Photo by fedora.digitalcommonwealth.org

Jika kamu mengikuti apa yang sedang terjadi di negara kita, politik seolah sudah menjadi serial drama yang ditunggu kelanjutannya oleh para penonton setia. Siapa aktor baru yang bakal muncul selanjutnya? Intrik apa lagi yang bakal terungkap sebentar lagi?

Sebagai anak-anak bangsa dengan pendidikan memadai, udah waktunya kamu belajar peduli. Apalagi, berita-berita seperti ini rajin muncul di lini masa setiap 5 menit sekali. Dengan atau tanpa kemauanmu untuk membaca. Mudah sekali untuk bersikap tidak peduli agar dianggap berkepala dingin, nggak ‘lebay’ karena terbawa arus media. Barangkali, ada sebagian dari kamu yang familiar sama kata-kata seperti ini:

“Ah, ngapain sih ikut ngurusin begituan? Ngurusin urusan sendiri aja belum tentu kelar.”

Hmm, contrary to the popular believe, apathic is not cool at all, Mates. Temen-temen seumuranmu aja udah banyak yang bikin macem-macem gerakan awareness, masa kamu masih aja berdiam diri? Nggak perlu lah sampai ikutan memanasi kolom komentar di media sosial yang penuh dengan ‘asap’, kok. Cukup dengan nggak menutup mata, bersikap seolah nggak tahu apa-apa.

Sebenernya, ada 3 hal bermakna yang bisa kita ambil dari ‘serial drama’ demokrasi yang sedang berlaga ini, Mates.

Mulutmu Nggak Hanya Harimaumu, Ia yang Menentukan Nasibmu

Mew. Rawr! Via JemberBagus

Beberapa minggu belakangan, penuntutan berbalas penuntutan terus saja bergulir ke meja Kapolda Metro Jaya. Lucunya, hampir semua tokoh ini dimasalahkan karena masalah yang serupa. Ya, salah ucap! Sudah banyak yang diperkarakan karena ucapan. Tokoh-tokoh seperti Ahok, Ahmad Dhani, hingga Buni Yani adalah bukti kalau apa yang kamu ucapkan bisa berbalik menjadi boomerang dalam satu kedipan mata saja. Kamu yang biasanya bisa nyantai-nyantai menikmati fasilitas rumah, bisa-bisa terancam kedinginan meringkuk di ranjang tahanan. Masih mau ngomong sembarangan?

Hukum Tidak Buta, Mulai Kapan Kita Belajar Percaya?

Hukum 'buta', alias nggak memandang uang, kekuasaan, status, gender, atau kepopuleran. Tapi hukum nggak buta dengan mereka yang udah melakukan pelanggaran. Via thinkingerrorfree.files.wordpress.com

Memang, kita sering mendengar hukum-hukum yang melepaskan orang-orang tak bersalah, tapi malah meringkankan mereka yang jelas-jelas merugikan negara. Tapi, kita tidak boleh lupa factor eksposur media besar-besaran dan tekanan masyarakat luas sedikit banyak berpengaruh pada jalannya persidangan. Bapak Ibu hakim menanggung beban yang luar biasa di pundaknya, karena apapun keputusan yang dijatuhkan, mata dari seluruh Indonesia akan menyorot padanya. Karena itu, Bapak Ibu hakim yang menangani kasus ini pasti sedang berusaha sebaik-baiknya. Juga, ada lembaga KPK yang selalu mengawasi jika kamu khawatir hakim kita menerima pelicin di belakang.

Mengungkapkan Pendapat Itu Baik, Tapi Apa Baiknya Kalau Memaksa?

Saat itu, ketua salah satu ormas keagaaman ternama (MyStudyWorld nggak perlu lah ya sebutin siapa, kamu pasti udah tau orangnya) bilang kalau mereka nggak akan berhenti sampai Ahok dijebloskan ke penjara. Well, merasa terhina tentunya hak semua manusia, tapi apakah kita berhak memaksakan kehendak untuk ‘menghukum’ mereka yang menyakiti perasaan kita sementara ada hukum yang sedang berjalan?

"Demonstrasi adalah hak demokratis warga, tapi bukan hak memaksakan kehendak dan bukan hak untuk merusak,"

Jokowi, (31/10/2016)

-Dilangsir dari nasional.kompas.com

Jangan sampai, mereka yang awalnya merasa terhina dan menuntut keadilan jadi berbalik diperkarakan karena masalah yang sama—terpeleset kala mengucap kata. Unjuk rasa memang dijamin undang-undang, tapi masa mau terus-terusan? Apa lagi, jika mengerahkan kekuatan massa untuk menekan hukum bertindak sesuai keinginan mereka.

Jadi inget jaman SD, waktu anak yang populer nggak suka sama satu anak mempengaruhin satu kelas buat ikutan ngucilin anak yang nggak dia suka. Via Shutterstock

MyStudyWorld percaya, masih banyak lagi pelajaran bermakna yang kesimpen di balik drama ini kalau kamu mau membuka mata (lebar-lebar). Mungkin, kamu pun punya insight lain?

Leave a Comment

  0 Comment