Nota Keberatan Bapak Ahok dan 5 Hal yang Bisa Kamu Tangkap Darinya



57c8b4f00a039-gubernur-dki-jakarta-basuki-tjahaja-purnama_663_382.jpg
Photo by http://media.viva.co.id/

Kisah Bapak Ahok selalu menjadi asupan berita yang paling dicari masyarakat Indonesia di akhir tahun ini ya, Mates. Apakah kamu juga mengikutinya? Hari ini, Selasa, 13 Desember 2016, Pengadilan Negeri Jakarta mmenggelar sidang pertama Gubernur menggelar sidang pertama Gubernur inactive Basuki Tjahaja Purnama, atau Ahok. Jaksa Penuntut Umum mengajukan dakwaan penodaan agama yang dilakukan oleh Ahok, mengenai kutipan ucapannya tentang surat Al-Maidah 51 di Kepulauan Seribu yang terkenal itu.

Ketika di persidangan, Tim Bapak Ahok mengajukan Nota Keberatan kepada Majelis Hakim yang dibacakan di persidangan. Mengutip dari liputan6.com (teks lengkapnya bisa kamu baca di sini), Ahok tampak sangat sedih ketika dituduh sebagai seorang penista agama, jika ia mengingat keluarga angkatnya yang merupakan pemeluk Islam yang taat dan telah membesarkannya dengan ikhlas dan penuh kasih sayang. Sebelum ramai dibelokkan oleh berbagai media berkepentingan khusus, kamu harus banget tau beberapa fakta penting yang ada di Nota Keberatan Ahok ini, Mates.

Anyway, MySudyWorld nggak membela siapapun di postingan ini, ya.

1. Menurut Ahok, Ucapannya Itu Ditujukan Kepada Politisi yang Memanfaatkan Ayat Suci

Dilema QS. Al-Maidah 51 yang bergulir jadi bola salju raksasa ini berawal dari kata-kata ‘viral’ Ahok, “Jangan mau dibohongi pakai Surat Al-Maidah ayat 51,” kepada para penduduk Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Menurut Bapak Ahok, ucapan itu ditujukan buat para lawan politisi yang berlindung di balik ayat-ayat Suci. Masalahnya, umat muslim dan para ulama merasa kalau ucapan tersebut ditujukan kepada mereka, jadilah demo besar-besaran dan penonaktifan jabatan seperti yang sudah kita lihat beberapa bulan belakangan ini.

Berkaitan dengan persoalan yang terjadi saat ini, dimana saya diajukan di hadapan sidang, jelas apa yang saya utarakan di Kepulauan Seribu,  bukan dimaksudkan untuk menafsirkan Surat Al-Maidah 51 apalagi berniat menista agama Islam, dan juga berniat untuk menghina para Ulama. Namun ucapan itu, saya maksudkan, untuk para oknum politisi, yang memanfaatkan Surat Al-Maidah 51, secara tidak benar karena tidak mau bersaing secara sehat dalam persaingan Pilkada.

Ada pandangan yang mengatakan, bahwa hanya orang tersebut dan Tuhan lah, yang mengetahui apa yang menjadi niat pada saat orang tersebut mengatakan atau melakukan sesuatu. Dalam kesempatan ini di dalam sidang yang sangat Mulia ini, saya ingin menjelaskan apa yang menjadi niat saya pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu tersebut.

Dalam hal ini, bisa jadi tutur bahasa saya, yang bisa memberikan persepsi, atau tafsiran yang tidak sesuai dengan apa yang saya niatkan, atau dengan apa yang saya maksudkan pada saat saya berbicara di Kepulauan Seribu.

Tampaknya, Ahok juga telah membahas masalah ini habis-habisan di buku yang ditulisnya, “Berlindung di Bawah Ayat Suci”, pada tahun 2008 silam.

2. Karena Keluarga Angkatnya, Bapak Ahok Mengaku Tidak Berniat Menghina Umat Muslim yang Sudah Dianggapnya Saudara Sendiri

Dengan menekankan topik soal keluarga muslim taat yang telah mengangkat dan mendidiknya sejak kecil, Bapak Ahok mengungkapkan bahwa ia tidak pernah berniat untuk menghina Islam, karena menurutnya menghina Islam sama saja seperti menghina keluarga dan saudara-saudaranya sendiri.

Saya lahir dari pasangan keluarga non-muslim, Bapak Indra Tjahaja Purnama dan Ibu Buniarti Ningsih (Tjoeng Kim Nam dan Bun Nen Caw), tetapi saya juga diangkat sebagai anak, oleh keluarga Islam asal Bugis, bernama Bapak Haji Andi Baso Amier , dan Ibu Hajjah Misribu binti Acca. Ayah angkat saya, Andi Baso Amier adalah mantan Bupati Bone, tahun 1967 sampai tahun 1970, beliau adik kandung mantan Panglima ABRI, Almarhum Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Jusuf.

Ayah saya dengan ayah angkat saya, bersumpah untuk menjadi saudara sampai akhir hayatnya.

Kecintaan kedua orangtua angkat saya kepada saya, sangat berbekas, pada diri saya, sampai dengan hari ini.

Bahkan uang pertama masuk kuliah S2 saya di Prasetya Mulya, dibayar oleh kakak angkat saya, Haji Analta Amir.

Saya seperti orang yang tidak tahu berterima kasih, apabila saya tidak menghargai agama dan kitab suci orang tua dan kakak angkat saya yang Islamnya sangat taat.

Saya sangat sedih, saya dituduh menista agama Islam, karena tuduhan itu, sama saja dengan mengatakan saya menista orang tua angkat dan saudara-saudara angkat saya sendiri, yang sangat saya sayangi, dan juga sangat sayang kepada saya. Itu sebabnya ketika Ibu angkat saya meninggal, saya ikut seperti anak kandung, mengantar dan mengangkat keranda beliau, dari ambulans sampai ke pinggir liang lahat, tempat peristirahatan terakhirnya, di Taman Pemakaman umum Karet Bivak.

3. Bapak Ahok Sudah Sangat Hafal dengan Penggunaan Surat Al-Maidah di Jalan Karirnya

Tampaknya, bukan kali ini saja Pak Ahok menghadapi serangan ‘ayat suci’ selama meniti karirnya ya, Mates. Gimana enggak, perbedaan memang selalu jadi bahan empuk untuk menjatuhkan citra lawan, sih. Kamu jangan begitu ya, Mates. Meskipun pada akhirnya Pak Ahok tersandung dengan ‘pembelaannya’ sendiri.

Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan “roh kolonialisme”.

Ayat ini sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elit, karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program, dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung dibalik ayat-ayat suci itu, agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.

Dari oknum elit yang berlindung dibalik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan surat Almaidah 51. Isinya, melarang rakyat, menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan, jangan pernah memilih kafir menjadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum yang seiman.

4. Begitu Juga, Ia Sudah Mengakrabi “Ayat Sakti” yang Digunakan Oleh Kalangannya Sendiri

Dalam Nota Keberatannya, Bapak Ahok juga mengungkap bahwa ayat-ayat sakti ini sudah terlanjur menjadi senjata andalan berbagai politisi, termasuk yang datang dari kawan-kawannya sesama Nasrani.

Bagaimana dengan oknum elit yang berlindung, dibalik ayat suci agama Kristen? Mereka menggunakan ayat disurat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Saya tidak tahu apa yang digunakan oknum elit di Bali yang beragama Hindu, atau yang beragama Budha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya, pasti, jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain, apalagi yang ras nya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesama kita (suku, agama, ras, dan antar golongan). Mungkin, ada yang lebih kasar lagi, pilihlah yang sesama kita manusia, yang lain bukan, karena dianggap kafir, atau najis, atau binatang!

5. Selama Ini Bapak Ahok Banyak Mengungkapkan Tradisi Islam yang Sering Ikut Ia Lakukan

Kasus dugaan penistaan agama ini kayaknya benar-benar memojokkan Bapak Ahok, yang banyak dikoarkan sebagai “musuh bersama” umat Islam. Dengan pembelaannya, Bapak Ahok berusaha meluruskan anggapan itu dengan mengungkapkan kembali kontribusi-kontribusinya kepada umat muslim di Jakarta dan daerah asalnya, Belitung. Namun, apakah hal itu bisa menghapuskan kekesalan umat Islam yang merasa agamanya dinodai?

Sebelum menjadi pejabat, secara pribadi, saya sudah sering menyumbang untuk pembangunan mesjid di Belitung Timur, dan kebiasaan ini, tetap saya teruskan saat saya menjabat sebagai Anggota DPRD Tingkat II Belitung Timur, dan kemudian sebagai Bupati Belitung Timur. Saya sudah menerapkan banyak program membangun Masjid, Mushollah dan Surau, dan bahkan merencanakan membangun Pesantren, dengan beberapa Kyai dari Jawa Timur. Saya pun menyisihkan penghasilan saya, sejak menjadi pejabat publik minimal 2,5% untuk disedekahkan yang di dalam Islam, dikenal sebagai pembayaran Zakat, termasuk menyerahkan hewan Qurban atau bantuan daging di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Saya juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan, termasuk untuk menggaji guru-guru mengaji, dan menghajikan Penjaga Masjid/Musholla (Marbot atau Muadzin) dan Penjaga Makam.

Hal-hal yang telah saya lakukan di Belitung Timur, saat menjabat sebagai Bupati, saya teruskan ketika tidak menjadi Bupati lagi, sampai menjadi anggota DPR RI daerah pemilihan (dapil) Bangka Belitung, sebagai Wakil Gubernur dan juga, sebagai Gubernur DKI Jakarta saat ini pun tetap saya lakukan.

Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Bapak Ahok juga masih sering membuat kebijakan untuk kepentingan umat muslim, seperti memberikan waktu kepulangan yang lebih awal untuk umat Muslim di bulan Ramadhan, membangun masjid megah Fatahillah untuk PNS yang bekerja di Balaikota, serta sebuah Masjid Raya di Rusun Daan Mogot. Hmm, sepertinya Pak Ahok benar-benar berharap sumbangsihnya selama ini bisa mengajak umat Muslim melihatnya kembali dari sisi yang berbeda ya, Mates.

Isi Nota Keberatan ini memang banyak mengangkat kisah kedekatan Bapak Ahok dengan umat dan tradisi muslim yang kini sedang melawannya ya, Mates, terutama dengan yang menyangkut keluarga angkatnya, yang merupakan tokoh-tokoh Muslim di daerah asalnya, Belitung. Tampaknya, Bapak Ahok ingin mengambil kembali simpati umat Islam di Indonesia ya, Mates. Menurutmu, apakah ia bakal berhasil?

Terlepas dari semua itu, kita serahkan aja proses pengadilan kasus Bapak Ahok ini kepada pihak yang berwenang, ya. Selama itu, ingat, jangan mudah terpengaruh provokasi dari sosial media yang nggak bertanggungjawab dan menyaring informasi sebenar-benarnya. Mari kita berharap demokrasi di Indonesia dapat berlangsung seadil-adilnya, Mates!

Leave a Comment

  0 Comment