Kuliah di Negeri Orang, Udah Siap Sama Jadwal Puasanya?



865a5b2d39c8413cbb81b78e39a9726c_18_(1).jpg
Photo by http://www.aljazeera.com/

Siapa yang kepingin kuliah di luar negeri? Mystudyworld yakin, pasti banyak dari kalian yang memendam keinginan buat mengejar pendidikan terbaik dalam bidangmu di negeri orang. Tapi, belajar di negeri seberang banyak banget tantangannya lho, Mates. Selain tuntutan akademis yang harus dipenuhin, kamu juga bakal nemuin challenge budaya dan lingkungan yang nggak bakal kamu duga sebelumnya. Dan mau nggak mau, kamu harus bisa beradaptasi dengan tantangan tersebut.

Salah satunya adalah jadwal puasa yang harus dihadapin sama temen-temen pelajar muslim kita di belahan benua lain, yang, kalo menurut orang Indonesia, nggak masuk akal! Apalagi, tahun ini bulan Ramadhan jatuh di musim panas, which means, lama terbitnya matahari bakal jauh lebih lama daripada waktu terbenamnya. Kayak apa sih tantangannya?

 

Semakin Jauh dari Garis Khatulistiwa, Jam Puasamu Bakal Makin Panjang

Tahan puasa 18 jam

Harus tahan puasan 18 jam kalau mau kuliah di Oxford via http://www.englishinbritain.co.uk

Negara-negara yang terletak di belahan atas dan bawah garis khatulistiwa bakal mendapatkan paparan sinar matahari yang lebih panjang daripada negara yang terbentang di garis khatulistiwa. Akibatnya, sewaktu musim panas, siang akan menjadi makin panjang, dan malam jadi semakin pendek. Berbeda dengan musim dingin, dimana matahari tenggelam lebih cepat.

Karena Ramadhan tahun ini jatuh di musim panas, mau nggak mau temen-temen kita yang sedang belajar di Perancis, Jerman, Spanyol, Belgia, Inggris, Kanada, dan Italia harus menjalani ibadah puasa selama 18 jam. Dalam waktu selama itu, temen-temen kita harus membagi perhatiannya antara menjaga ibadah, ngerjain tugas, bahkan ngikutin aktivitas kampus. Sementara di Belanda, waktu puasa itu ditambah 1 jam lagi, yaitu 19 jam.

 

Semakin Dekat dengan Kutub Utara, Durasi Puasamu Bahkan Bisa Hampir Seharian

Tetep terang meski maghrib

Tetep terang meski udah jam 10 malem via https://secure.as1.wdpromedia.com

Karena letak geografisnya, mereka yang bermukin di daratan eropa utara bisa melihat matahari menggantung selama lebih dari 20 jam selama musim panas. Bahkan, ketika mencapai titik baliknya, matahari bisa tidak terbenam sama sekali!

Yup, misalnya saja, teman-teman muslim kita yang sedang belajar di Denmark tahun ini, bakal harus menahan rasa haus, lapar, dan  hawa nafsunya selama 20 jam. Itu masih belum seberapa dibandingkan mereka yang stay di Rusia, Swedia, Islandia, Norwegia, atau Finlandia, dimana jam puasanya bisa berkisar antara 21 hingga 22 jam sehari, Mates! Kebayang nggak tuh? Itu artinya, mereka cuma sedikit waktu buat berbuka dan melepas dahaga, sebelum melanjutkan ibadah puasa selama (hampir) seharian kedepan.

Untungnya, ada fatwa atau keputusan ulama yang bisa menjadi patokan buat teman-teman muslim di negara-negara tersebut. Ketika mereka tidak bisa melihat matahari terbenam sama sekali, mereka bisa mengikuti jadwal imsak dan iftar Mekkah atau negara Islam terdekat. Fiuh!

Tapi, nggak semua pelajar yang merantau di luar negeri bakal menemui situasi ini kok, Mates. Teman-teman muslim kita yang merantau di negara-negara Amerika Selatan dan Australia justru bakal ngalamin masa puasa yang lebih singkat daripada Indonesia. Karena Argentina, misalnya, memiliki masa puasa yang hanya 12 setengah jam saja, sama seperti Australia.

Siap merantau emang harus siap dengan segala konsekuensinya, Mates. Tapi, tentu ada pengalaman-pengalaman unik sewaktu kamu berpuasa di negeri orang yang bikin kamu kangen sama sensasinya, kok. Ada yang pernah ngalamin? Share cerita kamu di kolom comment, ya!

Leave a Comment

  0 Comment

Comment