PERINGATI HARI ANAK PEREMPUAN INTERNASIONAL, KIKIS HABIS PERLAKUAN DISKRIMINATIF TERKAIT GENDER



african-child-1381553_1920.jpg
Photo by UNWoman, Pixabay.com

Bertepatan dengan tanggal 11 Oktober, hari ini jatuh sebagai peringatan Hari Anak Perempuan Internasional atau International Day of the Girl Child. PBB, khususnya UN Women, berjuang keras membantu anak perempuan untuk memperoleh perlakuan yang sama dan adil dari masyarakat yang kerap membedakan gender.

 

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa dari 1,1 miliar anak perempuan di dunia, sebagian besar masih mengalami kekerasan, diskriminasi dan pelecehan seksual serta menjadi korban perdagangan manusia. Bahkan kebebasan untuk mengakses informasi dan komunikasi lewat internet masih sangat dibatasi. Hanya sebagian kecil dari total populasi yang memperoleh perlakuan adil.

 

Di berbagai negara masih kental anggapan bahwa anak perempuan tidak perlu memperoleh pendidikan atau pelatihan. Mereka dituntut untuk menjadi pekerja di rumahnya sendiri, memasak, mencuci dan mengurus keluarga. Kesempatan yang sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan perlakuan yang diterima anak laki-laki.

 

Bukan hanya di rumah, lingkungan masyarakat juga kerap memandang bahwa anak perempuan tidak berhak untuk menyuarakan pendapat dan hanya perlu melakukan apa yang diminta. Terkekang. Karena hal ini sudah berlangsung sejak dulu, sebagian perempuan bahkan sampai merasa kalau perlakuan ini adalah hal biasa dan lumrah untuk diterima. Mereka cenderung menganggap bahwa kewajiban anak perempuan hanya untuk mengurus anak dan rumah tangga.

 

Fakta bahwa saat ini usia pernikahan dini masih sangat tinggi persentasinya, menunjukkan bahwa masyarakat kerap menganggap pernikahan adalah jawaban dari kesusahan para anak perempuan. Sementara, ketika sudah berumah tangga, kesempatan untuk berkarir dan bekerja di luar semakin terkikis.

 

Bicara tentang dunia pekerjaan, zona ini juga merupakan tempat di mana para perempuan kerap mengalami diskriminasi dan anggapan bahwa pekerjaan tertentu tidak sesuai atau tidak dapat dilakukan oleh perempuan. Termasuk persyaratan seperti perempuan yang sudah menikah tidak memenuhi kualifikasi. Hal seperti ini semakin menutup ruang bagi para perempuan untuk memperoleh pekerjaan dan perlakuan yang adil.

 

Pelecehan seksual dan perdagangan anak saat ini menjadi salah satu permasalahan darurat yang harus ditangani oleh berbagai negara bahkan menjadi sorotan dunia. Dan sebagian besar korbannya adalah anak perempuan. Masyarakat hendaknya tidak menutup mata dan telinga, ikut-ikutan menganggap kejadian ini sebagai hal biasa.

 

Anak perempuan sama berharganya dengan anak laki-laki. Jadi sudah sepatutnya mereka memperoleh hak yang sama. Hak untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan, perlakuan adil, kebebasan berpendapat dan kebebasan untuk memperoleh informasi, serta hak-hak lainnya.

 

Akhir-akhir ini, semakin banyak orang yang sadar akan kasus diksriminasi yang menimpa anak perempuan dan bersatu untuk memperjuangkan hak mereka. Seperti di Afrika, mereka membentuk Africa Girls Can Code Initiative (AGCCI).

 

Berikut ini adalah kisah dari Eno Ekanem, perempuan usia 15 tahun, dari Abuja, Neigeria (dikutip dari laman UN Women). Saat dia berusia 14 tahun, ia mempelajari koding karena ada di dalam kurikulum sekolah. Ia menyukai koding –pemrograman menggunakan bahasa komputer. Tapi ia tidak memperoleh kesempatan yang sama untuk memperdalam ilmu ini.

 

 

Sebagian orang mempertanyakan keinginannya untuk memperdalam koding karena masyarakat cenderung menganggap bahwa ilmu komputer adalah untuk laki-laki. Dia merasa memperoleh diskriminasi dalam hal ini ketika orang-orang menyuruhnya melakukan hal yang bersifat feminim atau belajar jadi ibu rumah tangga saja.

 

Perkataan ini membuat dirinya beranggapan bahwa ilmu komputer memang hanya untuk laki-laki. Sampai ia menemukan para perempuan yang melakukan koding dan mengkampanyekannya, anggapannya berubah dan ia merasa bahwa perempuan juga bisa melakukannya.

 

Bersama dengan UNWomen, African Union Commision dan The International Telecommunication Union, mereka berencana membangun drone untuk dapat menyalurkan obat-obatan ke pedesaan yang susah dijangkau. Mereka menggunakan SMS sebagai media untuk memperoleh informasi di mana lokasi yang membutuhkan obat-obatan.

 

Ada enam perempuan dalam grupnya dan berasal dari negara berbeda seperti Namibia, Rwanda, Swaziland, Senegal dan Nigeria. Mereka bukan hanya belajar koding tapi juga saling berbagi ide dan cerita tentang budaya dan kehidupan di negara mereka. Mereka berusaha untuk saling mendengarkan dan bercerita satu dengan yang lain.

 

Mereka juga mengunjungi sekolah-sekolah dan mengajari para anak perempuan lainnya bagaimana untuk memahami koding serta membuka wawasan mereka bahwa ilmu komputer bukan hanya untuk anak laki-laki.

 

Untuk dapat mengurangi dan menghapuskan diskriminasi terhadap anak perempuan, kita harus ikut terjun langsung ke dalamnya. Ajakan ini bukan hanya berlaku untuk para perempuan, tapi juga bersama-sama dengan laki-laki. Membuang pola pikir bahwa hal tertentu hanya mampu dikerjakan oleh laki-laki saja, atau pekerjaan ini hanya untuk perempuan saja, dengan mengubah pola pikir itu, maka kasus diskriminasi akan dapat berkurang drastis. Setiap anak berhak memperoleh hak yang sama dan perlakuan yang sama. Stop melakukan tindakan kekerasan, diskriminasi dan pelecehan atau anggapan bahwa itu hal yang biasa.

 

Dan jika kamu adalah salah satu korban dari tindakan tersebut, cari pertolongan dan perlindungan dari orang-orang terdekat atau laporkan ke pihak berwajib. Kamu juga bisa melaporkannya kepada Komisi Nasional Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Komnas HAM, serta pihak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

 

 

Leave a Comment

  0 Comment

Comment